Masalah Utama Finalis Indonesian Idol

Saya menjadi vocal coach di Indonesian Idol sejak tahun 2012. Sejak saat itu, saya juga menjadi vocal coach untuk X-Factor Indonesia, The Voice Indonesia, Rising Star Indonesia, Idola Cilik, dan The Voice Kids Indonesia. Melalui pengalaman tersebut, saya mengamati banyak hal. Banyak hal yang bagus, namun juga masih banyak hal yang bisa dilakukan lebih baik, khususnya dalam konteks performa penyanyi atau kontestan.

Dalam post kali ini, saya ingin berbagi cerita mengenai permasalahan utama yang saya dan para finalis hadapi setiap saat, yang tentunya berhubungan dengan urusan suara.

Nyanyi Audisi Lebih Bagus Dari Live Show

Tidak sedikit kontestan yang pada saat audisi penampilan lebih baik daripada saat live show di minggu-minggu awal. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini. Yang pertama adalah masalah mental. Saat audisi, para kontestan adalah penyanyi-penyanyi yang bisa dibilang tanpa beban. Tanpa beban yang saya maksud adalah dia belum ada ikatan dengan manajemen, belum ada aturan yang membatasi lagu yang bisa dinyanyikan, belum ada beban moril mengecewakan fans, dan sebagainya, sehingga hal ini membuat seseorang tentu saja lebih “lepas” dan tanpa beban dalam bernyanyi, walau tentu gugup karena ya namanya juga audisi.

Hal berikutnya adalah kondisi saat audisi sangat jauh berbeda daripada live show. Saat audisi panggungnya tidak besar, ruangannya kecil, tidak ada penonton yang hadir di studio kecuali tim produksi, nyanyi juga audionya jelas, sekitarnya tidak berisik, juga audisi dilakukan secara taping atau direkam dulu sebelum ditayangkan. Sementara itu, saat masuk live show di babak top 15 ataupun babak Spekta, semuanya berubah drastis. Panggung lebih besar, lighting yang menari-nari, penonton yang riuh bikin tidak konsen dan audio jadi tidak jelas, belum lagi tekanan yang besar mengetahui bahwa mereka nyanyi ditayangkan langsung di hadapan jutaan pemirsa televisi. Dan juga terkadang, lagu saat live bukanlah pilihan bebas kontestan melainkan ditentukan bersama tim. Jadi kondisinya jauh sekali berbeda.

Suara Kontestan Sering Habis

Hal pertama yang selalu saya sampaikan ketika bertemu kontestan adalah soal kesehatan suara. Saya tidak akan pernah bosan untuk mengulang-ulang topik ini selama karantina berlangsung. Bahkan 75% konten pelatihan vokal yang saya sampaikan adalah menyangkut kesehatan suara, sisanya baru soal teknik vokal dan lainnya.

Kenyataannya kontestan seringkali habis suara, dan itu adalah termasuk cedera vokal. Apa penyebab utama cedera vokal yang dialami kontestan Indonesian Idol? Kemungkinannya ada beberapa hal. Pertama tentu teknik vokal yang buruk. Teknik yang buruk ini kalau hanya dilakukan di situasi manggung di venue kecil dan hanya 1-2 lagu sih tidak akan menimbulkan masalah. Tetapi kalau nyanyi di panggung besar, full power, jingkrak-jingkrak, ya sudah tentu akan membuat si penyanyi terasa kepayahan dan akhirnya cedera vokal. Namun kemungkinan yang kedua ini yang menurut pengalaman saya paling berpengaruh, yaitu kurang istirahatnya para kontestan selama karantina.

Setiap harinya di karantina, kontestan tidak ada waktu santai-santai. Selalu diisi dengan shooting, wawancara, kegiatan promo, latihan vokal, latihan band, key selection, shooting program Idol Banget, fitting baju, kelas koreo, kelas Bahasa Inggris, dan sebagainya. Bahkan menjelang hari live show hari Senin, mereka tidak hanya nyanyi full saat live show saja melainkan saat gladi resik sore harinya dan nyanyinya full power diulang dua kali, dan soundcheck di hari sebelumnya yang juga full power diulang dua kali. Yang mana sebelumnya mereka pulang larut malam dari latihan band.

Sebagai vocal coach tentu tugas saya untuk mengingatkan baik kontestan maupun pihak TV untuk prioritaskan kesehatan suara anak-anak. Tetapi tetap saja selalu kebobolan. Memang kebutuhan produksi program Indonesian Idol dan yang serupa sangat sulit dikompromi. Untungnya dari tim produksi juga selalu sigap menyediakan vitamin dan siap mengantar anak-anak ke dokter anytime jika memang diperlukan.

Untuk Idol kali ini, memang rata-rata kontestan pernah sampai serak suaranya. Namun yang paling terlihat cedera vokal setelah live itu Joan, yang kebetulan selalu dikasih lagu yang menantang seperti Love on Top (yang penampilannya terbilang banyak masalah) dan Respect. Namun alhamdulillah setelah diingatkan dan dilatih terus, sekarang kondisinya jauh lebih baik. Intinya kita sebagai penyanyi wajib bisa mengukur kapasitas diri sendiri dalam berbagai macam situasi. Kita tidak perlu merasa insecure ketika tidak bersuara keras, karena yang utama bukan power melainkan intensitas. Tanpa bersuara ekstra keras kita tetap bisa memberikan intensitas yang dibutuhkan dan tetap bisa membuat kagum pemirsa.

Kesimpulan

Saya tidak membuat post ini sebagai alasan untuk membela kontestan Idol. Saya hanya ingin share cerita saja dengan harapan teman-teman yang membaca bisa memetik sedikit pelajaran dari sini.

Jika kita bernyanyi sebagai hobi, suara kita relatif aman dari penyalahgunaan. Tetapi kalau sudah masuk ranah profesional dan industri, suara yang sudah menjadi aset utama bisnis harus dijaga ekstra hati-hati dan penuh perhatian. Termasuk di dalamnya menjaga kesehatan secara umum. Karena kalau suara penyanyi profesional cedera, yang rugi bukan dia saja, melainkan seluruh personil band, manajer, road manager, kru, promotor, tim produksi, sound, dan fans, semua akan merugi.

Bisa dijadikan contoh, kebetulan baru kejadian. Band Paramore beberapa waktu yang lalu baru aja membatalkan konsernya secara mendadak di hari H karena infeksi tenggorokan vokalisnya.

Sekian dulu sharing saya soal masalah utama kontestan Indonesian Idol kali ini. Jangan lupa nonton dan dukung finalis pilihan kamu di RCTI setiap hari Senin ya.

1 thought on “Masalah Utama Finalis Indonesian Idol

  1. Andre Pujianto Reply

    awesome…
    Terimakasih Coach Indra buat sharingnya sangatlah bermanfaat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *